gambar Soekarno, Soeharto, Supersemar dan CIA

Oleh Hilmy Prilliadi

            Pergantian rezim dalam suatu negara yang terjadi melalui pemilihan umum sudah menjadi sebuah peralihan kekuasaan yang lumrah dan masuk kategori demokratis. Negara yang baru merdeka dan perlu banyak belajar berdemokrasi sering harus berhadapan sebuah rezim pemerintahan yang sangat lama berkuasa. Kondisi tersebut dapat menumbuhkan rezim yang otoriter. Sejarah politik negara-negara di dunia menunjukkan penumbangan rezim otoriter sering melalui kudeta. Kudeta tersebut sering dilakukan oleh pihak militer dan melibatkan warga sipil karena membutuhkan bantuan intervensi massa atau kekuatan bersenjata yang masif.

           Pergantian kekuasaan tersebut juga dialami oleh Indonesia. Pergantian kekuasaan tidak hanya melalui pemilihan umum  tapi ada pula melalui proses penyerahan kekuasaan dalam kondisi politik yang penuh ketegangan. Peralihan kepemimpinan dari Soekarno kepada Soeharto tidak terjadi melalui proses yang mulus. Kurun waktu tahun 1965-1967 adalah tahun-tahun yang penuh intrik dan ketegangan politik. Peristiwa G30S/PKI dapat tergolong ke dalam percobaan kudeta yang gagal dari kelompok kontra revolusioner. Soeharto melakukan kudeta yang berbeda. Soeharto mengambil tindakan sejak peristiwa berdarah itu sampai dengan diangkat sebagai presiden pada tahun 1967 merupakan kudeta merangkak. Proses kudeta ini berlangsung secara perlahan. Bahkan Soekarno masih menjabat sebagai presiden ketika kekuasaan sudah beralih. Kondisi ini menunjukkan dualisme kepemimpinan dalam waktu peralihan kekuasaan Soekarno kepada Soeharto.

            Peristiwa yang menjadi titik awal dimulainya peralihan kekuasaan Soekarno kepada Soeharto sebagaimana yang telah disebarluaskan kepada masyarakat selama 32 tahun rezim Orde Baru berkuasa cenderung berupa penilaian tunggal dan bersifat indoktriner. Selain itu, cukup banyak bahan sejarah dan saksi peristiwa tersebut yang melahirkan pendapat yang beraneka ragam. Secara khusus, mengenai pergantian kekuasaan negara dari Soekarno kepada Soeharto telah memunculkan dugaan adanya kudeta yang dilakukan Soeharto terhadap Soekarno. Hal tersebut terlihat ketika setelah penyerahan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar/SP 11 Maret) 1966, nampak dimanfaatkan oleh Soeharto sebagai pengemban ‘surat sakti’ dengan mengambil kebijakan dan keputusan politik, seperti pembubaran PKI dan ormas-ormasnya. Padahal dictum dari Supersemar lebih menekankan pada penyerahan kekuasaan militer dalam artian pengamanan jalannya pemerintahan dan bukan sebagai penyerahan kekuasaan politik. Dalam kata lain, Supersemar bukanlah transfer of authority (pengalihan kekuasaan) dari Presiden Soekarno kepada Soeharto. Kondisi inilah yang menunjukkan indikasi adanya kudeta perlahan dalam proses peralihan kekuasaan dari Soekarno kepada Soeharto.

           Jatuhnya Soekarno dari kursi kepresidenan memang tidak bisa lepas dari Peristiwa 30 September 1965 yang menewaskan perwira TNI AD yang terkenal loyal terhadap pemerintahan Soekarno namun anti komunis. Dalam peristiwa G30S/PKI  tidak ada intrpretasi tunggal dan akhir. Berbagai versi bermuculan, salah satunya adalah buku putih berjudul “Gerakan 30 September, Pemberontakan Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya” yang diterbitkan oleh Sekretariat Negara tahun 1994 merupakan salah satu versi  yang kemudian menjadi acuan buku pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah di Indonesia. Menurut buku tersebut, dalang dari G30S adalah Partai Komunis Indonesia (PKI).

           Versi lain yang banyak dikupas adalah berupa dokumen mengenai sejauh mana keterlibatan Badan Intelijen Amerika Serikat yaitu CIA (Central Intelligence Agency) dalam peristiwa penggulingan Soekarno. Bahan tersebut kini dapat diperoleh dan dikaji lebih mendalam karena ketentuan undang-undang Amerika Serikat yang menyatakan bahwa semua dokumen rahasia negera dan telah berumur 30 tahun atau lebih dapat dipublikasikan dan diketahui masyarakat secara terbuka. Abad 20 memang dapat dikatakan sebagai abad intel. Abad ini menjadi puncak kecanggihan intelijen yang berkuasa di seluruh dunia. Negara-negara adikuasi terutama Amerika Serikat sering mencampuri urusan negara orang lain dengan sasaran utama negara dunia ketiga. Khusus Indonesia, Amerika menganggap Soekarno dapat menghambat garis politik dunia bebas. Data yang dibeberkan CIA ini bisa ditelusuri benang merahnya untuk melacak kisah penggulingan Soekarno dan Peristiwa G30S/PKI walaupun bisa dipastikan masih banyak informasi penting yang disembunyikan.

            Bagi Soekarno, dunia barat termasuk Amerika Serikat memiliki unsur-unsur The Old Estabilished Forces (Oldefos) yang masih bercokol dan mengaca dalam rumah tanggga negara-negara dunia ketiga termasuk Indonesia. Itulah sebabnya globalisme ekonomi dan politik, globalisme intelligence, globalisme budaya yang berwatak destruktif bagi kesejahteraan dan perdamaian bumi manusia, harus dihadapi dengan kerjasama dan penggalangan globalisme solidaritas The New Emerging Forces (Nefos) sedunia bahwa:

             Indonesia pada tahun 1960-an termasuk Negara yang tidak disukai oleh blok barat pimpinan Amerika Serikat (Amerika Serikat). Di era Perang Dingin itulah konflik utama dunia terjadi antara Kapitalis (dipimpin Amerika Serikat) melawan Komunis (Uni Soviet dan Republik Rakyat Cina). Amerika Serikat sedang bersiap-siap mengirimkan pasukan untuk menghabisi komunis di Korea Utara dan juga Vietnam Utara. Sementara di Indonesia, Partai Komunis (PKI) merupakan partai legal. Saat kebencian Amerika Serikat terhadap Indonesia memuncak dengan menghentikan bantuannya, Presiden Soekarno menyambutnya dengan pernyataan keras: “Go to hell with your aid!”. Sebagai pemimpin Negara yang relatif baru lahir, Presiden Soekarno mengucapkan kebijakan berani: “Berdiri pada kaki sendiri (berdikari)“. Dasar sikap ini yaitu kenyataan bahwa alam Indonesia begitu kaya raya. …., sehingga ada harapan besar bahwa suatu saat nanti Indonesia akan makmur tanpa bantuan barat.

          Presiden Soekarno saat itu juga begitu konfrontatif terhadap Amerika Serikat, Inggris, dan sekutunya yaitu dengan pernyataan Ganyang Nekolim (Neo Kolonialis dan Imperialis) bangsa barat. Sikap dan tindakan Soekarno dengan menyerukan Dwikora untuk Ganyang Malaysia juga menjadikan Soekarno sebagai tokoh yang mengancam kedudukan blok kapitalis di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik, akibatnya sikap Amerika Serikat juga jelas yaitu gulingkan Soekarno.

              Amerika Serikat melalui CIA menggunakan militer dan jenderal-jenderal lokal “our local army friends” sebagai sekutu terpercaya untuk menghalau komunisme, demikian juga yang terjadi di Indonesia. Peter Dale Scott (1985) menyimpulkan bahwa dalang utama Peristiwa 30 September 1965 adalah CIA yang ingin menjatuhkan Soekarno dan kekuatan komunis. CIA bekerja sama dengan sayap kanan Angkatan Darat untuk memprovokasi PKI melalui isu adanya Dewan Jenderal. Keterlibatan PKI dalam hal ini tidaklah secara nasional dan institusional. Hanya para pemimpin PKI saja (D. N. Aidit, Nyoto, Ir. Sakirman, dan pimpinan PKI lainnya) yang jelas-jelas terlibat karena termakan isu yang dilemparkan CIA. Keterlibatan CIA cukup beralasan jika dikaitkan dengan konteks Perang Dingin.

        Keterlibatan CIA dalam penggulingan Soekarno tidak lepas dari intervensinya terhadap militer Indonesia dengan mempengaruhi pikiran beberapa perwira Indonesia bahwa menyingkirkan Soekarno merupakan tugas patriotik demi menghalau komunis di Indonesia. Perwira-perwira ini merupakan anggota Angkatan Darat yang memperoleh pendidikan militer Amerika Serikat dan para perwira daerah yang bekerja sama dengan CIA dalam melaksanakan program civic mission membendung kekuatan komunis di daerah. Bahkan CIA berhasil meyakinkan salah seorang perwira yang memegang tampuk pimpinan militer pasca peristiwa Gerakan 30 September yaitu Soeharto, bahwa PKI-lah yang bersalah dan harus disingkirkan bersama dengan Soekarno yang enggan mengutuk keterlibatan PKI dalam peristiwa tersebut.

           Dari berbagai versi yang ada, cukup masuk akal bila dikatakan tidak ada pelaku tunggal dalam Peristiwa 30 September 1965. dalam konteks Perang Dingin, keterlibatan unsur Amerika Serikat (CIA) sangatlah mungkin, demikian juga dengan peran elit pengurus PKI, dan adanya persekongkolan suatu kelompok kecil dalam Angkatan Darat dan Angkatan Udara yang mencoba menangkap dan menghadapkan beberapa jenderal kepada Presiden Soekarno.7 Akhir dari semua ini menjadikan Soekarno sebagai orang yang sangat dicelakakan hingga dia digulingkan dari kekuasaannya karena tidak mau mengutuk PKI, sementara Soeharto nantinya justru menjadi orang yang sangat diuntungkan karena para saingannya sesama jenderal telah tersingkir menjadi korban dan dia dapat melenggang ke kursi kepresidenan.


Wardaya, FX Baskara Tulus. 2009. Membongkar Supersemar!: dari CIA hingga kudeta merangkak melawan Bung Karno. Galangpress Group

Syarifah, H. 2017.Peran Central Intelligence Agency (CIA) Dalam Peristiwa Penggulingan Presiden Soekarno Tahun 1965-1968

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s