gambar Transformasi Nilai Gerakan dalam Bingkai Ke-IMMan

Transformasi Nilai Gerakan dalam Bingkai Ke-IMMan[i]

Oleh : Fajri Fauzi[ii]

10353556_10203111582904743_991175823802900365_n
Ketua Umum IMM FP UMY Periode 2015-2016

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau IMM, begitulah para mahasiswa menyebutnya. IMM adalah sebuah organisasi dengan gerakan perkaderan yang menjadi anak kandung dari salah satu Ormas Islam yang terbesar di Indonesia yaitu Muhammadiyah. IMM kurang lebih berdiri 52 tahun yang lalu atau tepat nya pada 14 Maret 1964.

Ada dua faktor atas berdiri nya IMM, yaitu faktor internal dan eksternal, dimana sejatinya merupakan kebutuhan pribadi Muhammadiyah yang membutuhkan adanya organisasi otonom di kalangan mahasiswa, yang kiranya mampu melahirkan kader-kader penerus perjuangan Muhammadiyah karena sebelumnya perkaderan yang terjadi dalam tubuh Muhammadiyah merupakan hasil perkaderan dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) yang merupakan organisasi kemahasiswaan Islam secara umum.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah adalah salah satu organisasi pergerakan yang menjadikan perkaderan menjadi basis gerakan di tingkat mahasiswa, yang memiliki Tri Kompetensi Dasar sebagai landasan untuk bergerak, antara lain Religiusitas, Intelektualitas dan Humanitas, yang lebih dikerucutkan menjadi Keagamaan, Kemahasiswaan dan Kemasyarakatan atau yang disebut sebagai Trilogi Ikatan.

Berbagai masalah dan tantangan, baik yang bersifat internal maupun eksternal akan saling mempengaruhi. Untuk menangani persoalan seperti itu maka sudah barang tentu membutuhkan pemikiran dan pertimbangan yang visioner dan strategis. Untuk menangani masalah tersebut, terlebih dahulu harus membenahi masalah internalnya. Minimal, harus bisa menyeimbangkan antara respon dengan tantangan untuk mencari celah dan akses alternatif sebagai pemecahan masalah.

Masalah yang terjadi di PC IMM A.R Fakhruddin pada setiap periodenya adalah kurangnya pengoptimalan transformasi nilai perkaderan, antara lain ialah kesenjangan tiap-tiap masa periode kepemimpinan. Bentuk kesenjangan yang terjadi adalah kurangnya kedekatan antara pimpinan cabang yang berada dalam satu periode struktural kepemimpinan maupun kedekatan dengan kader yang berada dalam tataran komisariat baik secara kultural maupun struktural. Masalah kesenjangan tersebut mengakibatkan tidak adanya sinergisitas baik dalam ruang lingkup pimpinan cabang sendiri maupun dengan struktural dibawahnya.

Masalah tersebut menimbulkan efek domino yang terjadi di PC IMM A.R Fakhruddin, dengan tidak adanya sinergisitas maka timbulah masalah baru, yaitu tidak maksimalnya pemerataan wacana intelektual kader-kader PC IMM A.R Fakhruddin. Meskipun sudah adanya kebijakan terkait untuk penguatan kedisiplanan ilmu tiap-tiap komisariat, namun kebijakan tersebut masih kurang berjalan dengan maksimal, karena masih kurangnya sinersigitas dalam transformasi nilai intelektualitas itu sendiri.

Paling tidak, secara berkala bisa melakukan semacam analisis SWOT, untuk bisa memahami daya kekuatan organisasi (strength), menganalisis kelemahan (weakness), mencari peluang dan kesempatan (opportunity), dan kesiagaan untuk mengantisipasi ancaman (treath). Langkah-langkah konseptual dan operasional untuk pengembangan organisasi yang menyangkut kebijakan dan strategi juga tidak lepas dari penggunaan piranti manajemen tadi. Upaya secara riil bisa dilakukan oleh guna melakukan identifikasi dan analisis SWOT organisasi secara berkelanjutan pada setiap periode dan selama perjalanan organisasi.

Pemikiran dan upaya pengembangan organisasi ini bisa dilakukan secara berkesinambungan melalui identifikasi strategis dan kebijakan organisasi pada realitas kekinian, dengan mengambil pijakan evaluatif dari strategi dan organisasi masa lalu, dan kemudian memprediksikannya dalam wawasan strategi dan kebijakan untuk masa mendatang. Lebih jauh, melalui upaya ini pula bisa melakukan reorientasi wawasan dan gerakan yang relevan dengan kebutuhan dan perkembangan zaman.

Maka dari itu perlu adanya formula untuk mengoptimalkan transformasi nilai gerakan dalam bingkai ke-IMMan. Solusi yang saya tawarkan pada PC IMM A.R Fakhruddin yaitu perlu adanya tansformasi nilai, dengan cara adanya diskusi rutin dengan kader yang akan meneruskan tampuk kepemimpinan di cabang selanjutnya, agar bisa meminimalisir terjadinya mis-orientasi dalam perjalanan PC IMM A.R Fakhruddin kedepannya, sehingga kader-kader yang akan meneruskan ketika berada dalam struktural cabang nanti nya  memiliki gambaran apa yang akan dilakukan kedepannya.

Selain itu perlu adanya kesadaran individu bagi para kader untuk mengikuti agenda-agenda cabang yang telah dibuat/disusun, agar nantinya proses transformasi nilai tidak terputus begitu saja akibat lalainya para kader tidak memiliki kesadaran individu untuk mengikuti agenda cabang.

Selanjutnya untuk pembuatan blueprint pasca Darul Arqam Madya berbentuk penyempurnaan dari blueprint sebelumnya, bukan pembuatan blueprint baru, agar nantinya ranah gerak tetap konsisten dengan jalur yang telah ditentukan, tetapi untuk  isu sentral bisa berubah sesuai situasi dan kondisi.

Dengan dilaksanakannya ketiga hal tersebut-pengoptimalan nilai gerakan dalam bingkai ke-IMMan; adanya kesadaran individu, dan; penyempurnaan blueprint sebagai acuan gerak-harapannya PC IMM A.R Fakhruddin tidak lagi terjebak dalam permasalahan internal gerakan.


[i] Judul ini ditulis sebagai syarat visi-misi calon formatur PC IMM A.R Fakhruddin Kota Yogyakarta pada Musycab ke XIII

[ii] Ketua Umum IMM FP UMY Periode 2015-2016-Calon Formatur PC IMM A.R Fakhruddin Kota Yogyakarta

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s