gambar IGOV UMY Gelar Diskusi Umum; Mencari Kelas Menengah di Kota-kota Menengah di Indonesia

Laporan Habibullah

IMG-20160227-WA0001

UMY— Program Studi International Goverment Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (IGOV UMY) mengadakan diskusi umum dengan tema “Mencari Kelas Menengah di Kota-kota Menengah di Indonesia”, Jum’at (26/02/2016) kemarin. Acara ini diisi oleh Gerry Van Klinken seorang Profesor of Southeast Asian History at the University of Amsterdam; Senior research of KLTV, dan diskusi dimoderatori oleh David Efendi. Acara yang dimulai dari pukul 13.00-16.00 WIB ini sebagian besar pesertanya berasal dari mahasiswa Ilmu Pemerintahan, namun acara ini juga terbuka (gratis) bagi orang-orang yang berada diluar Program studi IGOV.

Dalam diskusi tersebut Profesor Gerry memaparkan bahwa kelas-kelas menengah di Indonesia tumbuh pesat sejak peristiwa reformasi 1998. Peristiwa tersebut menyebabkan dampak cultural, salah satunya adanya persepektif baru mengenai kelas-kelas menengah di Indonesia yang sebelumnya terbatas pada elite nasional yang memiliki kekuasaan di pemerintah pusat. Setelah demokrasi muncul, kelas-kelas menengah tersebut tumbuh subur menunjukkan identitas dirinya yang terdiri dalam jumlah yang sangat besar, borjuis konservatif dan tidak terpusat secara geografis atau tersebar di seluruh Indonesia.

Profesor Gerry menjelaskan perspektif Anna Aren bahwa kelas menengah adalah kekuasaan yang tumbuh ketika mereka bersama dan hilang ketika mereka berpencar. Artinya sebelumnya identitas mereka tidak tampak disebabkan kebersamaan mereka hilang karena adanya kekuasaan terpusat, dan diambil alih oleh kekuasaan pemerintahan.

Orang-orang di kelas menengah ini pula menyebabkan daerah tidak bisa ditembus oleh pemerintah pusat tanpa adanya kerjasama atau aliansi dengan kelas-kelas menengah di daerah. Sejak gelombang reformasi 1998 muncul permintaan otonomi daerah yang dipimpin oleh orang-orang kelas menengah. Diantaranya Pontianak dan Riau yang mengancam memisahkan diri dari Indonesia jika tidak kekuasaan daerah tidak diberikan. Hal tersebut didukung oleh berbagai provinsi-provinsi yang ada di Indonesia.

Kelas menengah di provinsi ini memiliki peran penting karena kelas inilah yang mengikat Indonesia menjadi satu. Kota-kota menengah adalah kota yang tidak termasuk kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Medan dan Surabaya. Kota-kota menengah ini terdiri kurang dari < 1.000.000 jiwa.

Lanjutnya, terdapat banyak persepektif baru mengenai kelas menengah di Indonesia, diantaranya yang memandang secara kekuasaan ekonomi dan kekuasaan sosial. Namun Profesor Gerry membatasi pembahasannya kelas menengah berdasarkan kelas-kelas menengah berdasarkan kekuasaan ekonomi. Menurutnya kelas menengah Indonesia rentang 1999-2009 tumbuh sebesar 43% dan sampai pada tahun 2012 tumbuh sebesar 45%. Angka pertumbuhan yang besar, dan diduga akan terus berkembang hingga batas rata-rata global yaitu sedikit diatas 50%.

Ada hal unik dari kelas-kelas menengah (bawah) di Indonesia yang tidak sama persis dengan elite nasional. Diantaranya pendapatan kurang menentu, jaringan lebih lokal, agama lebih konservatif, dan menguasai kota provinsi. Artinya sifat kedaerahannya sangat dominan. Selain itu juga disebutkan kelas-kelas menengah cenderung memiliki ekonomi informal, kekuasaan informal, dan mengontrol rente diperoleh dari negara.

Selanjutnya berdasarkan hasil penelitiannya Professor Gerry merangkum beberapa kesimpulan sikap kelas menengah Indonesia yang berbeda dari negara lain seperti Amerika Utara dan Inggris, diantaranya sebagai berikut :

  1. Indonesia menengah mencintai negaranya
  2. Menolak pasar bebas
  3. Suka demokrasi (asal dapat melawan elite nasional)
  4. Menguasai daerah lewat kekuatan informal sehingga sulit ditembus oleh pemerintah pusat.

Karakter orang-orang di kelas menengah di era pasar bebas ini dapat diteliti lebih lanjut mengenai cenderung sikap mereka; apakah lebih cenderung dalam partisipasi bidang politik atau cenderung kepada lifestyle yang terus berkembang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s