Mahasiswa Menolak Penggusuran Kantin,’Rak ono’ Kantin Kita Miskin

Siang ini (19/11/2015), kantin utara lebih ramai dari biasanya. Biasanya bergantian lima-lima orang terlihat menyantap menu makanan disetiap kantin di area kantin utara yang berjumlah 12 unit itu. Ramai, segerombolan mahasiswa berkumpul, menyanyi bersama dan berteriak “save kantin”, mahasiswa itu menyebut dirinya ‘Aliansi Mahasiswa UMY Peduli Kantin’. Mahasiswa menolak kebijakan penggusuran kantin. Bagi mereka kantin bukanlah sekedar menjadi tempat pemuas perut, lebih dari itu, kantin menjadi media berekspresi dalam menjalani nikmatnya kehidupan dunia ini. Digusurnya kantin berarti menggusur pula seluruh aktivitas mahasiswa didalamnya, baik itu aktivitas akademik, maupun aktivitas sosial dan semacamnya.

2015-11-19 12.35.57
Mahasiswa menyanyikan lagu “rak ono kantin kita miskin”

Tepat jam 12.30 tadi, terdengar nyanyian nan indah liriknya, meskipun agak sumbang suaranya, dari salah seorang mahasiswa yang mengaku dari Fakultas Pertanian.

Ibu kantin memang harus di kantin….. Rak ono kantin kita miskin

Ibu kantin juga harus melawan…..Tuk perjuangkan kedaulatan

……

Menarilah…. menarilah…. Menarilah…. karna kita penari

Menyanyilah… menyanyilah….menyanyilah …. karna kita penyanyi

Tapi di kantinlah … di kantinlah kita…di kantinlah, hidup kita di kantin…

Melawanlah…melawanlah…melawanlah…untuk kantin melawan….

Paling tidak ada 4 poin yang dapat diambil dari lirik lagu diatas, 1) pentingnya konservasi kantin; 2) kantin sebagai penompang ekonomi; 3) perlunya sebuah gerakan untuk memperjuangkan aspirasi, dan ; 4) perlu ada wadah yang tepat bagi kapasitas manusia. Melalui lirik tersebut, mahasiswa berpesan kepada pihak kampus agar dalam pembangunan kampus harus mempertimbangkan ke-empat poin diatas.

Selain aksi dalam pentas seni, unjuk rasa mahasiswa kali ini juga diwarnai oleh aksi ‘Idra’ yang bertelanjang setengah dada dan mengecat tubuhnya dengan tulisan-tulisan yang merupakan aspirasi mahasiswa.

2015-11-19 12.36.14
Mengecat tubuh dengan aspirasi

Salah seorang mahasiswa menyampaikan orasinya dengan lantang, “dulu kantin utara, kantin selatan, agrimart, kantin-kantin di gedung perkuliahan dan kantin kejujuran yang ada disetiap lobi, hidup beraktivitas dengan damai dan berdampingan, tapi semuanya berubah dan menjadi hancur saat UMY BOGA menyerang”. Mahasiswa memang banyak yang memandang kebijakan kampus menggusur kantin tersebut , ada hubungannya dengan UMY BOGA, karena setelah semua kantin digusur nanti, yang tersisa hanyalah UMY BOGA, kantin yang dikenal mahasiswa dengan fasilitas elit dan harganya yang lebih mahal. Banyak mahasiswa yang enggan mampir disitu, karena tempat dan harga yang tidak merakyat.

Seminggu yang lalu, (Kamis/12/11/2015) sejumlah mahasiswa juga melakukan aksi serupa dalam bentuk pentas seni yang sekaligus dalam rangka memperingati hari pahlawan, bertema “Pedagang Kantin Pahlawan Mahasiswa’, di kantin selatan kampus UMY. Dalam aksi itu, mahasiswa terus mengkritik kampus lewat sindiran-sindiran dalam puisi, lagu dan orasi. Mahasiswa juga menghibur pedagang kantin yang kaget dan belum siap jika harus berpindah profesi dari pedagang kantin UMY.

Pada Agustus 2015 lalu, mahasiswa juga melakukan aksi menolak penggusuran kantin, karena kantin adalah ruang publik mahasiswa yang tidak ada sekat antar sesama, dan ketika penggusuran dilakukan, pedagang yang menggantungkan hidupnya dalam usaha kantin akan menderita.

2015-11-12 14.36.31
Aksi Pentas Seni di Kantin Selatan Kamis (12/11/2015)

Kejadian ini hampir serupa ketika tujuh tahun yang lalu, tepatnya pada hari Selasa, 30 Desember 2008, sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam IKBM-UMY (Ikatan Keluarga Besar Mahasiswa UMY) melakukan aksi menolak penggusuran kantin selatan UMY, yang  juga mempunyai peran penting bagi mahasiswa, karyawan serta dosen UMY serta menjadi tempat mata pencaharian pokok bagi para pedagang.

IKBM-UMY memandang keputusan penggusuran kantin dibuat secara sepihak oleh pihak kampus melalui PT. Mentari Prima Karsa (MPK) sebagai pengelola kantin lewat surat No. 87/MPK/UUI/XII/2008. Dalam surat tersebut disebutkan pengosongan kantin tersebut dilakukan paling lambat tanggal 31 Desember 2008 dengan alasan pembangunan sportorium UMY membutuhkan tempat untuk lalu lintas kendaraan pengangkut material dan penataan landscape. Dalam surat tersebut tidak disebutkan mengenai bentuk kompensasi atau relokasi yang jelas bagi pedagang.

Dari dulu hingga sekarang, kasus penggusuran kantin selalu menuai kontra dari mahasiswa yang simpati kepada pedagang kantin, mahasiswa yang haknya untuk berekspresi ikut terkubur bersama kantin yang digusur. Hendaknya pembangunan ini tidak malah meruntuhkan tatanan sosial yang sudah terbentuk. (Erka)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s