Muhammadiyah dan Kiprah di Tengah Masyarakat*

Oleh : Dr. Gunawan Budianto, MP**

downloadtyty(Aktivitas KH. Ahmad Dahlan dan masyarakat kurang mampu dalam film Sang Pencerah)

Muhammadiyah adalah sebuah organisasi atau persyarikatan Islam yang bergerak di bidang dakwah Islam, amar ma’ruf nahi munkar. Organisasi ini didirikan oleh KHA.Dahlan (nama kecilnya Muh. Darwisy) pada tanggal 18 November 1912 di Kampung Kauman Yogyakarta. Pada mulanya gerakan ini diawali dengan upaya KHA. Dahlan untuk mengembalikan umat kepada dua sumber utama yaitu Al-Qur’an dan Hadits. Dua gerakan utama yang diajarkan KHA. Dahlan adalah melaksanakan Islam secara konsekuen dan menjadikan gerak umat Islam sebagai sebuah gerakan sosial yang berkemajuan. Gerakan Muhammadiyah selalu berupaya agar Islam dapat menjadi rahmat bagi seluruh umat melalui pelaksanaan ajaran-ajaran Islam. Penyantunan fakir miskin dan menolong kesengsaraan umat melalui pendirian panti-panti asuhan (roemah miskin) dan balai kesehatan (penolong kesesengsaraan oemat) banyak dilakukan Muhammadiyah di mana-mana. Dasar kegiatan ini adalah surat Al-Maun yang secara ringkas ayat tersebut menggolongkan manusia sebagai pendusta agama manakala rajin menjalankan shalat tetapi tidak mau memperhatikan dan memberi pertolong kepada fakir miskin dan anak yatim.

KHA. Dahlan selalu mengajarkan kepada muid-muridnya bagaimana pentingnya membuat Islam dapat menjadi rahmat bagi manusia melalui penyantunan sosial, bahkan salah seorang muridnya pernah memprotes beliau, mengapa setelah berbulan-bulan pelajaran surat Al-Maun ini tidak pernah selesai diajarkan, maka dengan sabar KHA. Dahlan menjawab  ”Siapakah diantara kalian yang telah merasa mengamalkan surat Al-Maun ?”.  Mendapat pertanyaan seperti itu, tiada satupun diantara muridnya yang menjawab. Kemudian KHA. Dahlan menyuruh murid-muridnya untuk pergi ke Alun-Alun Utara Kraton Yogyakrta, dan masing-masing mengambil satu orang anak fakir miskin yang banyak terdapat di tempat tersebut, kemudian memandikannya di Masjid Besar kauman, memberinya pakaian pantas dan makanan secukupnya serta mengajarkan shalat.

Begitulah cara KHA. Dahlan memahamkan Al-Qur’an kepada murid-muridnya, dan beliau terus berupaya bahwa Islam tidak semata berurusan dengan ibadah manusia dengan Khaliknya, tetapi juga memiliki perspektif sosial yang menentramkan umatnya. KHA. Dahlan benar-benar telah memberikan penjelasan kepada kaumnya bahwa Islam berurusan dengan keseimbangan antara hubungan vertikal (manusia dengan Allah) dan horisontal (sesama manusia dan antara manusia dengan lingkungan).

Melalui organisasi yang dipimpinnya, yaitu Muhammadiyah, KHA. Dahlan mengarahkan pengikut-pengikutnya untuk menjadi orang Islam yang berkemajuan yang memegang teguh tiga pilar utama Iman-Ilmu-Amal. Manusia haruslah beriman, karena iman adalah fitrah manusia, setelah menjadi Islam maka haruslah menguasai ilmu sebesar-sebesarnya agar umat Islam tidak selalu berada dalam belenggu kebodohan. Oleh karena itulah majelis yang pertama kali dimiliki Muhammadiyah adalah Majelis Pustaka, karena beliau berkeyakinan bahwa dengan ”membaca”, umat Islam dapat menjadi umat yang maju dan tidak ketinggalan jaman. Beliau juga memiliki sekolah sendiri yang mengajarkan keseimbangan antara Agama dan Ilmu Pengetahuan, dan untuk pertama kali ”sekolah kyai” yang didirikannya menggunakan bangku (meja dan kursi) dan tidak lagi ”sorogan” (lesehan). Banyak kyai Kauman dan Kraton yang waktu itu menyebut sekolah Kyai Dahlan sebagai ”sekolah kafir”, karena tata letak yang meniru sekolah Belanda pada umumnya.

Pada dasarnya KHA. Dahlan adalah seorang ulama-intelektual, karya intelektualitas pertamanya adalah pada saat beliau berhasil menghitung dan menetapkan ”arah kiblat” yang benar, sesuai dengan kedudukan geografis antar pulau dan benua. Pada saat  itu terjadi dialog terbuka antara KHA. Dahlan dan para Kyai Kraton di Serambi Masjid Besar Kauman. Sebagaimana masjid-masjid yang lain di Indonesia, pada umumnya shaf shalat menghadap lurus ke arah barat, sehingga tiak tepat mengarah ke Kiblat. Perdebatan panjang tersebut, dilalui dengan perhitungan rumit dan penelaahan posisi geografis yang pada umumnya tidak dipahami oleh para Kyai Kraton. Akhirnya perdebatan panjang berhasil meyakinkan para ulama Kauman bahwa arah kiblat yang benar adalah arah barat serong ke kanan sebesar 23-26 derajad, dan mulailah diadakan perubahan arah kiblat. Penelusuran arah kiblat yang sekarang dapat dilaksanakan menggunakan animasi digital ”Google Earth” dapat membuktikan bahwa landasan berpikir KHA. Dahlan adalah benar dan mememuhi kaidah akademis.

Contoh praktis sehari-hari yang diajarkan KHA. Dahlan jelas mengarah kepada pencapaian tiga pilar utama tersebut. Iman akan menjadikan seseorang menjadi Islam dan dengan ilmu yang dikuasainya orang Islam akan dapat berbuat dan beramal buat kaumnya dan akhirnya mengantarkannya menjadi umat yang Ikhsan. Sehingga ajaran KHA. Dahlan sangat jelas mengarah kepada tercapainya keterkaitan Iman-Islam-Ikhsan, yang akan menjadikan Islam lebih dapat dimaknai dan dipahami dalam bahasa dan geliat kehidupan keseharian. Oleh karena itu KHA. Dahlan juga getol memasyarakatkan makna dari surat Al-Ashr, yang menyatakan bahwa semua manusia dalam keadaan merugi, kecuali mereka yang memiliki tiga kriteria (satu) beriman, (dua) beramal sholeh dan (3) saling ingat mengingatkan akan pentingnya kebenaran yang semuanya dilaksanakan dalam kesabaran. Dalam salah satu falsafah ajarannya, KHA. Dahlan menyampaikan bahwa ” Manusia itu semuanya mati (perasaanya) kecuali para ulama yaitu orang-orang yang berilmu. Dan ulama-ulama itu dalam kondisi kebingungan, kecuali mereka yang beramal. Dan mereka yang beramalpun semuanya dalam kekhawatiran, kecuali mereka yang ikhlas atau bersih hatinya”. 

Saat kini Muhammadiyah telah berusia lebih dari 100 tahun ( 1 abad), dan telah memiliki lebih dari 150 perguruan tinggi, lebih dari  13.000 sekolah (TK,SD, SMP dan SMA), lebih dari 150 pondok pesantren, lebih dari 200 panti asuhan serta lebih dari 100  rumah sakit dan balai kesehatan dan dengan metode subsidi silang yang diterapkan di seluruh amal usahanya (si kaya mensubsidi si miskin)  telah ikut andil meningkatkan kesejahteraan, kualitas manusia Indonesia, bahkan beberapa tokoh nasional menyebutkan bahwa Indonesia  berhutang budi kepada Muhammadiyah yang telah secara nyata ikut mencerdaskan dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia. Muhamamdiyah sangat berkeyakinan bahwa untuk meningkatkan kesejahteraan manusia Indonesia dapat ditempuh melalui  peningkatan pendidikan dan kesehatan rakyatnya.

Berkiprah dan berbuat untuk bangsa tidak dapat dikerjakan tanpa adanya organisasi yang kuat, oleh karena itu Muhammadiyah selalu membutuhkan tumbuhnya kader-kader bangsa sebagai penerus laju dan gerak aktivitas Muhammadiyah bagi bangsa ini. Oleh karenanya Muhammadiyah juga membentuk beberapa organisasi otonom (binaan) baik di kalangan pelajar (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) maupun di kalangan mahasiswa (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah) untuk berlatih berorganisasi dan menempa diri menjadi bagian dari bangsa ini.  Dalam hal ini UMY memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berkiprah dalam IMM sebagai bagian dari proses menempa diri dan berbuat lebih banyak untuk bangsa melalui persyarikatan Muhammadiyah.


*Artikel ini pernah diterbitkan dalam buletin Aufklarung Edisi 01/Sos/13/Okt dalam pengajian Milad Muhammadiyah Fakultas Pertanian UMY yang diselenggarakan oleh IMM FP UMY, pada 9 Dzulhijjah 1434 H di Masjid KH. Ahmad Dahlan UMY

 **Dosen Fakultas Pertanian UMY, Wakil Rektor 1 UMY

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s