Akibat Serangan Bulai, Petani Jagung di Kendal Terancam Gagal Panen

Para petani yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Tani Hutan (KMTH) Desa Sambongsari, Kecamatan Weleri, Kabupaten Kendal mengeluh, lebih dari 50% tanaman jagungnya diserang Bulai.

DSC_0000392

Kendal- Dibawah terik matahari Senin (27/04) lalu, puluhan petani jagung di Kendal terlihat mengeluh sekaligus khawatir periode tanam kali ini akan gagal panen. Pasalnya tanaman jagung yang rata-rata baru berumur 15 – 45 hari, tampak bercak putih pada daun yang mengindikasikan terserang bulai. Meskipun pada musim tanam sebelumnya serangan bulai cukup merugikan petani, namun pada musim tanam kali ini dirasa yang paling besar. Terhitung lebih dari 50% tanaman jagung di lahan, semua rusak akibat serangan bulai.

Menurut Nasir (55), salah satu anggota KMTH mengungkapkan bahwa serangan bulai sebelumnya belum pernah separah ini. “dulu sangat jarang tanaman yang terserang bulai, semenjak dua periode tanam ini, serangan bulai cukup besar, periode ini yang paling besar” ujar pria yang akrab dipanggil aceng tersebut.

Pada musim tanam sebelumnya, kurang lebih hanya 20% tanaman yang terserang bulai dari total tanaman yang ada di lahan 27 petani atau seluas ± 20 ha tersebut. Menurut penuturan Nur khamim, salah satu petani (saat ditanya luas lahan tidak tahu pasti), pada periode tanam sebelumnya ia masih untung sekitar Rp 900.000, untuk upahnya 3 bulan. Sedangkan pada musim tanam ini, ia hanya bisa berkeluh-kesah,“entah gimana, kita lihat saja nanti, bisa panen atau tidak” ungkapnya dengan penuh pasrah.

Memang tidak diketahui secara pasti, apa penyebab serangan bulai musim ini meningkat drastis. Surijal (59), Ketua KMTH menduga serangan bulai kali ini adalah akibat cuaca yang tidak menentu. “Ora panas, ora udan, tanah dadi lembab, jamur penyebab bulai cepet nyebar”, jelasnya dalam bahasa jawa saat diwawancarai Reporter Loper Aufklarung (LA) tentang apa yang menyebabkan serangan bulai besar-besaran di musim ini.

Penyakit Bulai

Dari sumber referensi ilmiah, penyakit Bulai disebabkan oleh jamur peronosclerospora maydis. Ciri-ciri tanaman yang terserang bulai diantaranya memiliki bercak klorotik yang memanjang sejajar tulang daun, terdapat spora yang menyerupai tepung putih, tanaman terhambat pertumbuhannya, daun terlihat menggulung serta pada tanaman muda biasanya akan mati.

Bulai menyerang tanaman jagung berusia muda, 1-2 minggu setelah tanam (MST), sedangkan masa kritisnya antara 0-40 hari setelah tanam (HST). Namun tidak menutup kemungkinan tanaman dewasa dapat juga terserang bulai, hal itu disebabkan karena tanaman telah terinfeksi jamur pada usia mudanya. Tanaman yang terserang bulai pada usia mudanya, pada fase generatifnya akan mengalami cacat, bahkan tongkol buah tidak muncul. Oleh sebab itu, hampir seluruh tanaman yang terserang bulai dapat dipastikan tidak akan berbuah.

Bulai juga dapat menyerang pada daerah dimana jagung ditanam tidak serempak (variasi umur), jamur akan mudah berpindah dari tanaman satu ketanaman lainnya. Pada daerah yang lembab akan mempercepat penyebaran spora.

Upaya Penanggulangan

Sampai dengan saat ini belum ditemukan cara yang paling efektif untuk mengobati tanaman yang terserang bulai. Upaya yang sering dilakukan dan paling efektif adalah mencabut dan membakar tanaman yang terserang bulai agar tidak menular pada tanaman lainnya. Upaya lainnya yaitu dengan menyemprot pupus daun dengan fungisida ditambah pupuk daun, usahakan formula tersebut masuk ke pupus daun.

Untuk tanaman yang belum terserang bulai, atau untuk persiapan musim tanam selanjutnya, setidaknya dapat dilakukan upaya pencegahan. Pertama, pencegahan dapat dilakukan dengan memberi perlakuan bahan aktif metalaksil pada benih sebelum ditanam, atau dapat pula dengan memilih benih komersil yang sudah diberi perlakuan bahan aktif metalaksil seperti fenamidone, ethaboxam dan lainnya. Kedua, memilih varietas benih yang tahan bulai, seperti Bima 1, Bima 3, Bima 9, Bima 14, Bima 15, Lagaligo dan Lamuru.

Ketiga, dengan melakukan sanitasi lingkungan pertanaman. Dengan membersihkan lingkungan pertanaman setidaknya akan mengurangi penyebaran jamur, karena rumput-rumput disekitar pertanaman dapat menjadi inang bagi jamur. Keempat, melakukan tanam secara serempak. Dapat diketahui salah satu penyebab meningkatnya serangan bulai adalah waktu tanam yang tidak serempak. Kelima, melakukan pergiliran tanaman beda famili (yang bukan serealia). Upaya seperti nomor tiga, empat dan lima adalah upaya pencegahan bulai secara alami dengan menekan penyebaran serta tumbuh-kembang jamur penyebab bulai. (Erka)

Referensi :

http://pangan.litbang.pertanian.go.id/files/PenyakitBulaiPadaJagung.pdf

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s