Pertanian Terpadu Ala “JOGLO TANI”

Oleh : Teguh Utomo

Joglo-Tani

Pertanian terpadu merupakan suatu sistem pertanian yang memadukan beberapa aspek-aspek pertanian seperti peternakan, perikanan, dan pertanian budidaya di dalam satu kawasan dengan meniru pola siklus hidup dari alam. Pertanian terpadu merupakan sistem pendayaa gunaakan sumber daya lokal demi melangsungkan kegiatan pertanian dimana semua hasil dari pertanian itu baik itu produk utama maupun limbah dapat digunakan semaksimal mungkin. Pada kesempatan kali ini saya akan mengambil contoh dari penerapan pertanian terpadu di Joglo tani. Joglo tani merupakan sebuah tempat, dimana para petani dan masyarakat menjadikan tempat tersebut sebagai ajang pembelajaran mengenai pertanian karena disana terdapat berbagai aktivitas atau aspek yang berkenaan dengan pertanian. Ketika pertama kali saya berkunjung disana,  di joglo tani itu sendiri, terdapat beberapa pengelolaan pertanian yaitu kolam ikan, peternakan ayam petelur, itik, kambing serta tanaman budidaya seperti terung, jagung dan lain-lain.

Jolgo tani yang mempunyai slogan “ Monumen Kebangkitan Petani Indonesia ” dan diketuai oleh bapak Suprapto tersebut mempunyai penataan wilayah sebagai berikut. Bagian depan kanan kiri atau halaman muka, dibuat kolam yang dimana di atas kolam tersebut dibangun kandang ayam petelur. Kemudian samping kiri jolgo terdapat tempat tanaman budidaya seperti jagung, sawi, terung dan lain-lain, sedangkan bagian belakang ada ternak itik, kambing serta lainnya. Secara tidak langsung kita dapat membagi hal-hal tersebut menjadi beberapa bagian atau aspek yaitu:

  1. Pertanian: Yang dimaksud dengan pertanian disini yaitu didalam joglo tani tersebut, ada aspek budidaya tanaman, berupa jagung, sawi, dan terung. Kegiatan budidaya ini pada intinya digunakan untuk memenuhi kehidupan masyarakat
  2. Perikanan: di Joglo tani tersebut terdapat banyak kolam. Jumlah kolam tersebut kurang lebih sebanyak 8 petak. Ikan yang ada dikolam tersebut yaitu ikan nila, mujair dan mas
  3. Peternakan: peternakan yang ada di Joglo ada beberapa hewan yang dipelihara yaitu kamping, itik dan ayam petelur. Khusus ayam petelur, ayam tersebut dapat bertelur disetiap harinya sehingga memberikan tambahan ekonomi dan dijadikan sumber pendapatan dalam jangka waktu perharinya.

Dari ketiga aspek yang ada di joglo tani tersebut bisa dianalisis hubungan pertanian terpadu yang tercipta. Hubungan antara Pertanian terpadu tersebut dapat dilihat dari pembuatan kandang ayam petelur di atas kolam ikan. Disini kita dapat melihat adanya arus energi yang tidak terbuang percuma. Kotoran dari ayam tersebut bisa langsung menjadi pakan bagi ikan hal ini dikarenakan kotoran ayam petelur tersebut pada dasarnya masih mempunyai kandungan protein yang cukup tinggi. Dan hal ini berefek positif bagi pengeluaran atau biaya yang dikeluarkan karena pengelola tidak usah susah-susah untuk membeli pakan ikan. Jika dibandingkan dengan pembuatan kandang ayam petelur di luar kolam atau istilahnya tidak ada penerapan sistem pertanian termadu, para petani ikan dan ayam akan mempunyai banyak kendala dalam pengelolaannya. Hal ini dikarenakan pada dasarnya ikan membutuhkan banyak makanan yang cukup dan petani ikan pada umumnya memberikan pakan tersebut dalam bentuk pelet. Dan petani harus mengeluarkan biaya untuk membeli pakan ikan tersebut. Selain itu limbah dari ayam petelur yang berupa kotoran tersebut tidak akan bisa dimanfaatkan secara langsung dan mungkin bisa saja memberikan dampak yang negatif berupa bau yang tidak enak. Disini kita bisa melihat adanya efisiensi biaya pada pertanian terpadu dibandingkan yang bukan pertanian terpadu.

Di Joglo tani kita juga bisa melihat pertanian terpadu antara peternakan kambing dan tanaman budidaya seperti jangung. Pada kondisi ini terjadi hubungan timbal balik yang baik yaitu kotoran kambing dan limbah dari hasil panen jagung yaitu daun. Ketika kita menganalisis hal ini, maka akan kita jumpai istilah “ akhir pertanian menjadi awal peternakan dan akhir peternakan menjadi awal pertanian”. Istilah ini mengandung makna bahwa hasil limbah dari pertanian yaitu berupa daun-daun ataupun banggal jagung tadi bisa menjadi sumber kehidupan pakan bagi hewan ternak yaitu kambing, dan sebaliknya hasil limbah dari peternakan kambing yaitu berupa kotoran bisa menjadi sumber unsur hara demi memenuhi kehidupan tanaman budidaya yaitu jagung. Dari sini kita bisa melihat bahwa limbah yang dihasilkan oleh dua sektor atau aspek tadi tidak terbuang cuma-cuma dan bisa dimanfaatkan. Dan hal ini berbeda bila dibandingkan dengan para petani yang belum mau menerapkan sistem pertanian terpadu, banyak para petani yang lebih memilih untuk menggunakan pupuk-pupuk kimia yang notabennya harus mengeluarkan biaya tambahan untuk hal itu. Sedangkan pada sistem pertanian terpadu ini petani bisa memanfaatkan sumber daya yang ada yaitu dengan menggunakan kotoran hewan sebagai pupuk sehingga biaya yang dikeluarkan relatif murah.

Daur energi yang ada di joglo tani merupan salah satu contoh dari sebuah siklus alam yang bisa dikatakan berjalan dengan baik. hal ini dikarenakan apa yang dikeluarkan oleh alam akan kembali ke alam. Betapa bagusnya jika setiap dari petani mau menerapkan sistem pertanian terpadu, maka dapat dipastikan pertanian Indonesia yang berorientasi pada keberlanjutan alam atau ekosistem akan tetap terjaga.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s