Ada Apa Dengan Rembang ?

Oleh: IMMawan Yakub Saroni

Indonesia merupakan negara yang begitu beruntung jika dilihat dari posisi geografisnya, karena berada tepat di garis imaginer katulistiwa, sehingga menyebabkan Indonesia mempunyai dua musim yaitu hujan dan kemarau. Dengan adanya dua musim tersebut akan sangat menguntungkan indonesia dalam hal budidaya pertanian. Terlebih lagi, Indonesia didukung dengan jenis tanah yang bermacam-macam, sehingga potensi alam untuk aktivitas budidaya pertanian sangat besar.

Sumber daya alam (SDA) yang melimpah tersebut, ternyata belum dapat menjadi jalan menuju kesejahteraan masyarakat. Buktinya akhir-akhir ini, banyak muncul kasus alih fungsi dan eksploitasi lahan yang mengakibatkan kesenjangan sosial serta konflik antar komponen masyarakat. Salah satunya kasus eksploitasi lahan batuan karst di Gunung Kendeng Rembang Jawa Tengah, yang dilakukan oleh PT Semen Indonesia. Pada lokasi tersebut, akan dijadikan sebagai tambang batu kapur untuk diolah menjadi semen. Sayangnya, posisi batuan karst yang akan di eksploitasi menjadi pabrik semen tersebut, terletak diatas lahan produktif pertanian. Sehingga lahan pertanian yang berada dibawahnya akan mendapatkan dampak buruk apabila penambangan tetap dilakukan.

Rencana penambangan dan pembangunan pabrik semen menuai upaya penolakan dari warga Kendeng, Rembang. Senin (16/06/14) puluhan Ibu-ibu melakukan aksi penolakan pabrik semen. Aksi tersebut ditanggapi pihak Kepolisian dengan menyingkirkan ibu-ibu yang sedang aksi ke pinggir jalan. Malamnya, pihak aparat membubarkan tenda-tenda yang didirikan oleh massa aksi. Rencana penambangan semen sebelumnya direncanakan berada di Pati, namun karena terjadi penolakan warga dalam konflik tersebut, petani Pati memenangkan persidangan, sehingga PT Indocement group memindahkan lokasi penambangan ke daerah pegunungan kendeng Rembang Jateng pada tahun 2014, lokasi ini tidak jauh dari Pati tempat pertama kali konflik terjadi.

Dari kasus tersebut, berdasarkan survei bahwa Fakta menunjukkan, 70 persen petani di negeri ini hanya menguasai 13 persen dari total lahan pertanian, sementara 30 persen sisanya justru menguasai 87 persen lahan yang ada. Ketimpangan – ketimpangan ini yang disinyalir banyak pihak sebagai sumber persoalan, sehingga tuntutan yang selalu didengungkan adalah reforma agraria, perubahan pola dan struktur penguasaan sumber-sumber agraria.

Pada 20 November 2014 pihak Petani Rembang mangajukan gugatan kepada Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang untuk menuntut pembatalan izin lingkungan PT Semen Indonesia Rembang. Dalam persidangan, kesaksian dua akademisi UGM (Heru Hendrayana dan Eko Haryanto) menguatkan bahwa penambangan PT Semen Indonesia tidak berdampak buruk pada lingkungan. Kesaksian tersebut mengundang respon warga penolak semen untuk melakukan audiensi dengan rektorat UGM, sehingga hasil dari audiensi tersebut merencanakan adanya Tim Evaluasi UGM. Tim tersebut ditugaskan untuk menganalisis kondisi di Rembang secara langsung. Ketentuan dari tim tersebut adalah bebas dari pengaruh kepentingan apapun.

Sebab-sebab sengketa agraria menurut Achmad Sodiki, Pertama, karena kebijaksanaan negara masa lalu; Kedua, masalah kesenjangan social; Ketiga, lemahnya penegakan hukum; Keempat, karena tanah terlantar; Kelima, reclaiming sebagai tanah adat. Achmad Sodiki, Makalah disampaikan dalam Seminar Nasional dengan tema “ Penanganan dan Penyelesaian Konflik Agraria sebagai Kewajiban Konstitusi”, yang diselenggarakan oleh Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Jakarta, tanggal 13 Maret 2012.

Konflik Petani Rembang dan PT Semen Indonesia mendapat respon dari Mahasiswa diberbagai daerah. Kasus tersebut memicu kesadaran mahasiswa (Gerakan Mahasiswa) untuk melakukan kajian dan konsolidasi terhadap kasus ini. Kajian dan konsolidasi mahasiswa yang peduli konflik di Rembang tersebut melahirkan aliansi-aliansi peduli Rembang. Di Yogyakarta, mahasiswa bersatu dalam Aliansi Mahasiswa Jogja Peduli Rembang (AMJ-PR), yang terdiri dari mahasiswa berbagai kampus seperti UGM, UNY, UIN, UMY, UAD, UII dan Atmajaya. Sedangkan di Semarang sudah tergabung aliansi yang bernama Jaringan Masyarakat Peduli Pegungan Kendeng (JMPPK) dan Solidaritas Mahasiswa Semarang untuk Kendeng yang terdiri dari mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes), UIN Walisongo, Universitas Diponegoro (Undip), Polines, UPGRIS dan Unwahas serta berbagai komunitas dan organisasi ekstra kampus terdiri PMII, GMNI, HMI (literasi.co, 2015).

Acuan :

Dianto Bachriadi dan Gunawan Wiradi, Enam Dekade Ketimpangan. (Jakarta: Bina Desa, ARC, KPA, 2011).

Noer Fauzi Rahman, “Karakterisasi Konflik Agraria”. Paper disampaikan pada Kursus Agraria di STPN, Juni 2012.

Literasi.co

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s